- Beranda
- Profil
- Layanan
- Data & Publikasi
- Informasi Publik
- Tautan
- Kontak Kami
Pembukaan Bimbingan Teknis Menjahit dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah DJPb Prov. NTT
Dari Perbaikan Kualitas, Eksplorasi Pewarnaan, hingga Inovasi Produk Turunan
Nusa Tenggara Timur – Kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan mahakarya kearifan lokal yang sarat makna budaya. Namun, untuk memastikan keberlanjutan ekonomi para perajinnya, pemberdayaan tidak bisa dilakukan secara instan. Menyadari hal tersebut, Pusat Investasi Pemerintah (PIP) melalui Program Kampung UMi merancang peta jalan pendampingan yang terstruktur dan berkesinambungan bagi Penenun di Klaster Tenun NTT.
Program Kampung UMi Klaster Tenun NTT kini telah resmi memasuki tahun ketiga. Pendampingan ini dirancang secara bertahap agar para mama penenun memiliki fondasi bisnis dan keterampilan yang kuat dari hulu hingga ke hilir.

Peta Jalan Pemberdayaan Tiga Tahun Kampung UMi
Transformasi para penenun binaan PIP dilakukan melalui tahapan fokus yang terukur pada setiap tahunnya:
Tahun Pertama: Fokus pada Perbaikan Kualitas Tenun. Pada tahap awal, pendampingan difokuskan pada penguatan teknik dasar. Para penenun dilatih untuk meningkatkan standar kualitas kain, mulai dari tingkat kerapatan benang, presisi motif, hingga manajemen waktu produksi. Tujuannya adalah memastikan setiap helaian kain yang dihasilkan memiliki kualitas yang memenuhi standar kelayakan pasar yang lebih luas.
Tahun Kedua: Fokus pada Teknik Pewarnaan. Setelah kualitas tenunan dasar dinilai mumpuni, pendampingan tahun kedua bergeser pada estetika dan inovasi pewarnaan. Pada tahap ini, para penenun belajar meracik dan mengaplikasikan teknik pewarnaan, khususnya penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Eksplorasi ini tidak hanya meningkatkan daya tarik visual kain tenun, tetapi juga menaikkan nilai jualnya di mata konsumen yang semakin peduli pada produk eco-friendly.
Tahun Ketiga: Fokus pada Inovasi Produk Turunan. Memasuki tahun ketiga, target pemberdayaan melangkah jauh ke depan. Kain tenun yang sudah berkualitas tinggi dan memiliki warna yang indah kini difokuskan untuk diolah menjadi produk turunan siap pakai. Langkah ini merupakan strategi utama untuk memberikan nilai tambah (value added) maksimal pada karya tenun.
Bimtek Menjahit: Menjembatani Tradisi dan Tren Masa Kini
Sebagai wujud nyata implementasi program tahun ketiga, PIP menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Menjahit bagi para mama penenun. Kegiatan pelatihan yang berlangsung intensif sejak tanggal 13 hingga 30 September 2026 ini dirancang untuk membekali para penenun dengan keterampilan baru di luar alat tenun tradisional mereka.
Selama lebih dari dua pekan, para peserta diajarkan teknik dasar mengoperasikan mesin jahit, membuat pola, memotong, hingga merakit kain tenun menjadi barang terapan fungsional. Melalui Bimtek ini, helaian kain tenun bertransformasi menjadi ragam produk kekinian seperti tas jinjing (tote bag), dompet elegan, pouch, hingga aksesori fesyen lainnya yang sangat diminati oleh pasar modern.
Mendorong Kemandirian dan Skala Usaha
Pengembangan produk turunan ini merupakan solusi atas tantangan pemasaran yang sering dihadapi oleh para penenun. Dengan mengolah tenun menjadi produk terapan harian, barang menjadi lebih fungsional dan memiliki segmen pasar yang lebih luas dibandingkan jika hanya menjual kain bahan atau pakaian adat.
Strategi tiga tahun ini terbukti menciptakan efek ganda (multiplier effect): margin keuntungan dari penjualan produk turunan lebih menjanjikan, dan keterampilan menjahit memberikan para mama penenun otonomi untuk mengelola rantai produksi secara utuh. Selain itu, produk fesyen yang modern diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikan tradisi tenun.
Kegiatan Bimtek Menjahit ini menegaskan kehadiran pemerintah melalui sinergi Kemenkeu Satu dalam mendampingi pelaku UMKM agar sukses "naik kelas". PIP tidak hanya hadir memberikan akses pembiayaan yang mudah melalui Pembiayaan UMi, tetapi juga konsisten mengawal kapasitas SDM debiturnya. Melalui keterampilan baru yang diperoleh dari program komprehensif ini, mama-mama penenun NTT membuktikan bahwa dari tangan-tangan terampil di timur Indonesia, lahir karya-karya bermutu tinggi yang menggerakkan roda ekonomi keluarga sekaligus menjaga nyala warisan budaya bangsa.