- Beranda
- Profil
- Layanan
- Data & Publikasi
- Informasi Publik
- Tautan
- Kontak Kami
Kegiatan Simbolis Penyerahan Alat Tenun Komunitas Kampung UMi - Klaster Tenun NTT dihadiri pejabat Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi NTT, pejabat PIP, dan pejabat pemerintah provinsi NTT
NTT - Pusat Investasi Pemerintah (PIP) bersama PT. Ada Ide Indonesia (Ada Impact) meluncurkan Program Kampung UMi - Klaster Tenun di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur pada hari Rabu (4/12).
Salah satu bentuk program pemberdayaan yang dilakukan oleh PIP kepada Komunitas Tenun ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan peningkatan kualitas produk tenun tradisional dalam rangka memperkuat daya saing ekonomi pelaku usaha mikro dan ultra mikro di 6 (enam) desa, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, melalui pendampingan teknis dan pelatihan keterampilan bagi para penenun secara bertahap dan berkelanjutan.
Acara yang berlangsung di Balai Desa Subun, Kec. Insana Barat, Kab. TTU, NTT, dihadiri oleh Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan c.q. Kepala Kanwil DJPb Provinsi Nusa Tenggara Timur, Catur Ariyanto Widodo, Direktur Kerjasama Pendanaan dan Pembiayaan PIP, Muhammad Yusuf, serta jajaran pejabat pemerintah daerah Kab. Timor Tengah Utara. Sebanyak 148 orang dari Desa Kiusili, Tautpah, Nian, Tapenpah, Fefinesu, dan Subun turut serta dalam program ini. Mereka mendapatkan pelatihan intensif tentang teknik menenun, pewarnaan alami, manajemen usaha, dan literasi keuangan.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif PIP melalui program Kampung UMi Klaster Tenun ini, yang tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro, khususnya di Kabupaten Timur Tengah Utara. Dengan pelatihan persiapan pemasaran dan penyerahan alat tenun hari ini, kami berharap para peserta dapat mendapatkan dampak langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal." ujar Catur dalam sambutannya.
Pelatihan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari inovasi desain, manajemen usaha, hingga penggunaan teknologi dalam produksi dan pemasaran. Dengan demikian, para pengrajin tenun tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelola usaha mereka secara profesional.
Selain itu, terdapat simbolis penyerahan alat tenun dengan total alat tenun yang diberikan mencapai 413 unit kepada perwakilan peserta sebagai bentuk dukungan PIP dalam memberdayakan pelaku UMKM, serta komitmen PIP untuk ikut peran serta dalam pengentasan kemiskinan ekstrem pada daerah terpencil melalui program-program yang menyasar masyarakat menengah ke bawah.
"Kami berharap program ini dapat membantu masyarakat di NTT untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan usaha, dan meningkatkan pendapatan mereka melalui usaha tenun," ujar Direktur Utama PIP, Ismed Saputra, yang ditemui pada kesempatan berbeda.
"Program ini juga sejalan dengan komitmen PIP dalam mendukung pemberdayaan dan mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia," tambah Ismed.
Untuk memperluas pasar, program ini bermitra dengan Dekranasda setempat, yang memungkinkan produk tenun lokal berpartisipasi dalam pameran dan acara resmi. Di sisi lain, aktivasi media sosial melalui akun Instagram @ceritamamaditimur berhasil meningkatkan kesadaran publik terhadap produk tenun, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Program Kampung UMi - Klaster Tenun juga melibatkan para pengrajin tenun berpengalaman dari daerah setempat yang berperan sebagai mentor bagi para peserta. Dengan adanya transfer ilmu dan pengalaman dari para mentor, diharapkan kualitas produk tenun yang dihasilkan akan semakin meningkat.
Dengan pendekatan kolaboratif dan fokus pada keberlanjutan, Program Kampung UMi Klaster Tenun diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi mikro yang mampu meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akan terus diupayakan agar produk tenun tradisional dari NTT semakin dikenal dan diterima di pasar nasional maupun internasional.